Senandung Tanya
Tanya apa yang kau rasakan pada dirimu
Sementara kilatan wajahmu mempesona di setiap terpaan kabut
Andaikan aku hanyalah berharap yang berlebihan
Namun telah kau sediakan ruang waktu disisi sudut hatimu
Iringi aku dalam setiap doamu
Adalah malam-malam panjang dalam penantian
Lengahkan aku tertidur dalam gelap wajahmu
Yang ada hanyalah buaian manja pengharapan
Jika berat langkahku tuk mengawali
Hanyalah awalan dari kelana hidup yang tak surut kuperjuangkan
Ijinkan sejenak aku berharap dalam berat langkah
Hingga terantuk oleh kenyataan dalam
Sedalam rinduku yang tak pernah pungkas
Lonceng yang pernah aku bunyikan hanyalah pertanda
Pertanda dari bongkahan harap
Namun loncengku kan berdenting lembut
Tidak sekali-kali keras seperti yang pernah aku bunyikan
Bukan pula lantaran nestapa hingga lelah
Namun semata kenyataan yang tak kian menyerupa
Biarlah loncengku berdenting lembut
Diantara sembilu rasa merindu
Hingga pelukan maut menutupi mata hatiku
Engkau yang selalu hidup dalam jiwaku
Seperti yang selalu aku pahatkan dalam nafas janjiku
Bungkamlah aku dalam kerinduan ini
Hingga ujung tak bertepi
Usap tangisku
Belai lelaki kecil ini
Yang selalu menangis dalam rindunya
Aku rasa Tuhan selalu mengerti akan diriku
Dari setiap kedipan mata hingga tarikan dan hembusan nafas
Kusadari diriku hanya seonggok daging yang terbalut harap dan cinta
Tiada henti meraup semangat dalam tujuan
Antarkan aku ya Tuhan, dalam setiap tangis dan canda
Sekadar laksanakan niat ini
Berbagi diantara mimpi dan nyata
Tunggulah aku hingga tak berujung tepi
Walau dirimu kian menjauh dari mimpi
Namun bayangmu seputih harap dalam arak kabut
Menghampiriku
Menggerayangiku
Menyusupku
Hingga menggairahkanku dalam kenangan
Culiklah aku wahai rinduku
Dalam harap cemas dan ketakutan
Indahkan aku dalam keinginanmu
Walau aku tahu jawabmu
Ku pasti kan menjauh
Jauh diantara keinginan dan kebebasanmu
Mendung hitam laksana jemari tangan yang menggemgam erat
Diantara kaki dan tubuh langit
Bergelayut menutupi rasa keingin tahuanku
Aku tahu tak pantas aku berharap
Sementara jangkauan hatiku tersekat hijab
Luangkan sejenak fikirmu
Walau takkan pernah kuminta selalu kau hantarkan pada pandanganku
Turunlah kemari
Jangan bergelayut daintara kaki dan tubuh langit
Seniscaya harap dan mimpiku
Jika tak hendak aku merayu
Maka bungkam aku
Sekat aku setebal bencimu
Namun aku yakin
Takkan pernah engkau lakukan padaku
Karena aku tahu kebencianmu kan melenakanmu dalam pelangi keinginanmu
Hirup aku duhai benciku
Dalam setiap mahar yang kan ku bayar untukmu
Hingga penyatuan ini menjadi tualang mimpiku
Bersama mengatasi hati
Bersama mengatasi mimpi
Bersama meraup maujud Nya
Walau takkan pernah terjadi
Walau sesaat
Walau rekaan
Hingga senandung tanya takkan terhenti
Kecuali hati takkan selunak harap
Coba hentikan tanyaku
Dapatkah kau rasakan itu
Senyap dan sepi
Hingga senandung Tanya takkan berbisik…
Pagi berganti cerah,
salam Bunga
Minggu – 15 March 2009 – 09:34